Stevie G Hotel, destinasi baru rekomendasi saya untuk menginap di Bandung. Uniknya, setiap kamar memiliki interior kontemporer yang berbeda. Hotel yang merupakan salah satu anak perusahaan Maja House ini juga dapat menjadi pilihan keluarga Anda ketika berlibur, karena memiliki kamar serta lobi bernuansa playful yang akan disukai oleh anak-anak Anda.
Ini adalah salah satu kamar terfavorit Stevie G Hotel yang bernama This is Anfield. Jika Anda salah satu pecinta klub sepak bola dunia Liverpool, kamar ini akan menjadi stadion pribadi Anda. Ingat, jangan hanya berfoto di kamar ini, berjalan-jalanlah di area sekitar hotel dan hirup oksigen segarnya!
Happy holiday…
Mira dan Jazzy, yes, they are, the best friend i’ve ever had.
:’)

Beberapa bulan yang lalu, saya diberi email oleh Stylist Editor saya tentang produk furnitur baru asal Semarang yang mampu menarik perhatiannya. Benar saja, begitu saya melihat katalog koleksi terbarunya, saya merasa brand lokal ini benar-benar menggunakan aset kayunya secara maksimal ke dalam interior ruang makan.
Adriaan mengekspos koleksi Fall/ Winter 2012 pertama kalinya di IFFINA, Furniture Fair terbesar di Indonesia, yang bertempat di Jakarta, mulai tanggal 11 hingga 14 Maret lalu.
Di antara semua produknya kali ini, saya menyukai Chair Lilo Stripe Back. Bantalan kursinya yang berwarna kuning mampu memberikan kesan modern sekaligus menambahkan keceriaan pada ruang makan yang terkesan terlalu formal.
Jangan dikira karena memakai bahan kayu solid, mereka sembarangan menebang kayu. Produk Adriaan memang mempunyai ciri khas Indonesia namun bahannya tetap ramah lingkungan. Semua produk Adriaan menggunakan reclaimed teak wood.
Anda dapat mengunjungi showroom Adriaan yang ada di Permata Hijau P-114 Tembalang, Semarang 50176, Indonesia. Atau Anda dapat memesannya secara online melalui iamadriaan.com
Beautiful floral bed. You can search the pendant light look like at Moooi (moooi.com). Lovely bed can be find at Habitat (habitat.co.uk). Well, I think working at interior magazine is quite fun now.
Emergency unit (Taken with instagram)
looovveeee this movie !
Beberapa teori yang diceritakan di berbagai film atau novel terkadang benar adanya. Tapi bukan berarti cerita yang saya ambil dari film ini memang sebuah fakta atau valid, saya bukan psikolog maupun cendikiawan yang mempunyai bukti sebelum melontarkan fakta, saya hanya menceritakan ulang sebuah film, yang menurut saya teori mereka cukup masuk akal.
Well, mungkin Anda telah membaca beberapa cerita saya tentang homoseksual yang sering ditertawakan atau dipergunjingkan di masyarakat sosial. Saya tidak menyangkal bahwa saya juga memandang kaum homo itu… “berbeda”. Tapi setelah saya melihat film Law & Order di senja yang memalaskan saya untuk bekerja di long weekend ini, saya agaknya mulai melihat kondisi para homo menjadi lebih “manusiawi”.
Dikisahkan dalam film tersebut, seorang homoseksual meninggal karena dibunuh. Di beberapa scene dijelaskan bahwa sang korban, Reed kalau tidak salah namanya, sedang mengejar gelar master dan membuat studi tentang kaum homo dan peran psikolog dalam “membantu” mereka. Menurut studi yang sedang dikembangkan oleh Reed, homo bukanlah “penyakit psikologi” yang diderita para komunitasnya karena depresi, kekurangan perhatian, atau karena kurangnya figur ayah saat mereka kecil. Walaupun mereka berusaha sekeras mungkin dan meminum obat dari psikolog serutin mungkin, tidak ada kata “sembuh” untuk homoseksualitas, justru yang ada adalah penyangkalan diri sendiri yang jika dalam tahap ekstrim bisa mengakibatkan menyakiti diri sendiri. Homo sama seperti kidal, yang tidak bisa disembuhkan karena itu bukan penyakit. Namun tentu teori ini (jika benar-benar terbukti) akan sangat mengurangi pendapatan para psikolog yang mempunyai banyak sekali pasien homo di daftar tunggu ruang prakteknya, karena selama ini mereka memberi penyuluhan dan juga pengobatan (yang diceritakan dalam kisah ini) tidak mempunyai efek kesembuhan baik secara periodik maupun instan. Atau kata gaulnya, gaji buta.
Salah satu teori yang saya garisbawahi dari cerita ini, janganlah Anda menganggap homo adalah suatu penyakit, apalagi menular, yang bisa sembuh di kemudian hari. Jangan hakimi mereka dengan perbedaan mereka, karena ini bukanlah pilihan. Terima keberadaan mereka apa adanya, selama mereka bahagia menjalaninya, dan menjadi diri mereka sendiri…
With Love,
Jazzy.
Selamat malam!
Kenapa kali ini saya menulis malam hari? Yap, karena malam ini, malam ulang tahun saya yang ke-25, yang juga bertepatan dengan hari di mana hormon saya sedang berada di puncak kesensitifannya, sehingga membuat saya berpikir, apakah ini ulang tahun terburuk di sepanjang sejarah saya?
Bukan, ini bukan cerita curahan hati seperti blog-blog saya kemarin, tapi mungkin Anda bisa mengambil sedikit pengertian dari cerita galau saya malam ini.
Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, saya tidak begitu antusias terhadap hari ulang tahun saya kali ini, bahkan saya hampir lupa karena begitu banyak deadline mendadak dari chief editor saya untuk majalah edisi Januari. Tidak ada rasa berdebar, atau semangat berlebih untuk bersiap-siap membalas semua ucapan ulang tahun yang akan saya terima dari 2000 sekian teman saya di Facebook dan 300 sekian followers saya di Twitter. Bahkan saya hampir tertidur sebelum pukul 00.00.
Kalau tahun lalu saya dikejutkan dengan kue tart dari teman-teman kantor saya dulu, kini saya tidak mengharapkan apapun. Apapun! Karena saya maupun pacar saya sedang mengalami masa sulit menghadapi kehidupan di ibukota yang harga-harga makanannya semakin kejam terhadap kantong kami. Jadi setelah pacar saya mengucapkan selamat ulang tahun, saya pun tidur.
Paginya, well, agak surprise dengan kiriman foto dari keponakan-keponakan saya yang sedang berkumpul di Malang. Mereka membuat tulisan dan gambar wanita yang diberi keterangan “bibik” (kakak saya yang iseng rupanya sudah lama merencanakan agar saya dipanggil anak-anaknya agar terdengar seperti pengasuh mereka) dengan ucapan ulang tahun yang tidak teratur dan ala kadarnya. Agak geli juga saat dikirim foto kakak saya dengan pose serupa dengan anak-anaknya sebelumnya. Tetapi saat kakak saya mengirim foto 22 tahun yang lalu, tepat ketika saya merayakan ulang tahun yang ke-3, di mana foto tersebut menggambarkan ketika versi mungil saya yang cantik dan lucu, sedang memberi kue tart kepada ibu saya yang sangat cantik, saya jadi merasakan semangat itu lagi, semangat ulang tahun yang hangat, penuh dengan orang tersayang, meskipun mereka jauh.
Sayangnya, malam ini, entah karena tiket The Premier film Sherlock Holmes 2 habis ludes (padahal saya sudah berdandan dan niat untuk bersenang-senang menonton film itu dengan pacar), atau karena kini saya merasa sangat kesepian, saya menangis tersedu-sedu. Pacar saya yang mau pergi dengan teman-temannya terhenti sejenak karena mendengarkan keluh kesah saya tentang bagaimana saya sangat merindukan sahabat-sahabat saya di Malang yang nggak neko-neko. Walaupun hanya duduk di kosan teman saya Mira, berkumpul sambil membaca novelnya masing-masing, doing nothing, hati saya terasa seperti baru saja merayakan ulang tahun yang sangat meriah karena mengundang 1000 tamu ke rumah saya. Bersosialisasi dengan teman-teman bagi kami bukan berarti harus pergi keluar, jalan-jalan ke mall, atau nongkrong di kafe mahal—seperti sosialisasi ala Jakarta. Terkadang hanya dengan diam, saling menemani, sesekali bergosip tentang orang lain dan menertawakan atau ngerasani orang yang sama-sama kami tahu, bagi kami merupakan suatu kesederhanaan dari arti teman sesungguhnya.
“Aku orangnya sederhana, aku tidak perlu pesta meriah, kado-kado yang menggunung, atau acara ulang tahun yang khusus. Aku hanya perlu ditemani. Ditemani oleh orang yang benar-benar peduli dan mengerti akan kesederhanaanku. Aku butuh teman, ” ujar saya saat pacar saya akan pergi minum-minum bersama teman-temannya, well, tanpa saya tentunya. Tapi akhirnya saya merelakan satu-satunya teman saya hari ini, yang juga merupakan pemilik hati saya itu, pergi bersama teman-temannya.
Karena saya sadar, bahwa cinta adalah saat di mana kita bisa melepaskan ego sendiri demi orang yang kita cintai…
Jadi, sekali lagi untuk 4 menit terakhir dari hari Sabtu tanggal 24 Desember 2011 ini, I want to say… Happy birthday to me… And I miss you all my best friend in wherever you are, I really do…


Jumat, 16 Desember 2011
Tempat: Food court Thamrin City
Menu: Gado-gado
Lagi-lagi gado-gado. Berhubung rekening semakin berkurang drastis semenjak penyakit-penyakit aneh yang aku alami beberapa bulan ini, dan karena aku kembali (lagi) ke daerah Thamrin yang biaya hidupnya naudzubillah, gado-gado menjadi menu andalan sarapan, makan siang, maupun makan malamku. Tidak cuma bakso yang bisa komplit, gado-gado pun komplit dalam hal murah (semurah-murahnya masih 10.000), sehat (karena sudah termasuk sayuran), dan mengenyangkan (harga termasuk lontong).
Anyway, karena teman-teman makan siangku sudah jauh berbeda dengan sebelumnya, aku jadi jarang menulis blogku ini. Kalau dulu aku pasti sudah dijejali topik-topik militer, politik, maupun budaya yang sangat menarik oleh teman-teman makan siangku. Bukan berarti aku tidak cocok dengan teman-temanku yang sekarang, tapi mungkin karena kami berasal dari latar jurusan yang berbeda (desain interior, arsitek, maupun sastra Indonesia), jadi topik kami biasanya baru seputar ngomongin orang.
Ngomongin orang yang paling menarik tentu bicara mengenai gay. Di kota metropolitan seperti Jakarta populasi gay semakin melonjak. Yang semula kami para wanita (apalagi dari kota kecil seperti aku) harus bersaing dengan para socialite khas Jakarta, kini harus menambah daftar kompetitor satu lagi, para gay.
Semula berawal dari aku yang menjawab Anin (arsitek) tentang tempat kerja pacarku. Kemudian aku bercerita bahwa pacarku kini baru pindah kerja di lingkungan yang masyarakat gay nya mendominasi populasi kantor. Memang ada rasa khawatir karena konon gay itu berasal dari lingkungan. Dari sana kami mulai mengangkat topik para gay di acara makan siang kami.
Sayang sungguh sayang, ternyata pria penuh pesona di lantai atas adalah salah satu dari mereka para gay. Memang tidak kentara karena dandanannya macho, tontonannya sepak bola, dan aku pernah melihatnya diantar seorang wanita dengan mobil (yang aku kira pacarnya), lalu aku pikir-pikir lagi sekarang, pantas saja dia dianter cewek, wong dia gay! Sungguh, teman kantorku yang juga masih baru di sana juga tidak akan pernah menyangkanya.
Lalu kami berpikir, kenapa pria-pria ganteng kini sudah berubah orientasi. Di kantor kami saja, ada lebih dari 4 pria gay yang good looking. Tapi begitu mereka mengibas-ngibaskan tangan saat panik… Oh My God, kalau kata anak gaul zaman sekarang: Nggak banget.
Hal itu menyebabkan kami para wanita tidak bisa tenang jika bertemu para pria-pria tampan yang berdandan stylish. Karena kini kami harus berasumsi terlebih dahulu dari gerak-geriknya, apakah dia salah satu dari penganut homo seksual ataupun seorang pria sejati yang gentleman.
Yah, tepe-tepe sudah tidak semudah dulu…
Ini adalah pekerjaan baruku. Sebenarnya selama 3 bulan ke depan aku sedang beradaptasi dan meraba-raba, apakah nantinya aku akan menjadi salah satu stylish editor atau salah satu feature editor. Ini adalah salah satu hasil ketika aku sedang menjadi asisten stylish di salah satu rumah klien kami. Not bad, huh?